Selasa, 09 Oktober 2012

MATERI FIQIH KELAS VII

KELAS VII SEMESTER 1
1.     THAHARAH
1.1.         Pengertian Thaharah (Bersuci)
Menurut bahasa Thaharah artinya bersih dan suci. Sedangkan menurut istilah dalam ilmu fiqih adalah membersihkan atau menghilangkan diri hadats, seperti berwudlu’, mandi hadats atau bertayammum dan menghilangkan najis dari segala sesuatu yang berkaitan dengan diri sendiri. Oleh karenaitu bersuci dibedakan menjadi dua macam, yaitu bersucu dari hadats dan bersuci dari najis. Ada beberapa hal yang berkaitan dengan bersuci antara lain :

a.      Alat atau sarana Thaharah atau bersuci
b.      Kaifiyat atau cara bersuci
c.       Macam-macam najis dan cara mensucikannya
d.      Macam-macam benda yang Najis dan haram

1.2.         Alat atau sarana yang digunakan dalam bersuci.
Ada beberapa benda yang dibolehkan untuk bersuci seperti batu atau benda-benda yang kesat dan suci. Namun pada umumnya bersuci dilaksanakan dengan menggunakan air. Oleh karena itu marilah kita perlajari macam-macam air yang dapat dan yang tidak dapat digunakan untuk bersuci.

1.2.1.      Macasm-macam air
a.      Air mutlak, yaitu air yang suci dan mensucikan. Air ini dapat di minum dan dapat pula untuk bersuci Macam-macam air ini misalmya air hujan, air embun, air laut, air sumur (mata air)dan air yang membeku (es) yang sudah mencair. Air-air
tersebut dapat digunakanuntuk bersuci selama belum berubah keadaannya (warna, baud an rasanya).
Air yang ada dimuka bumi ini sesunguh air yang telah diatur oleh Allah. Air yang ada dimuka bumi ini (misalnya air laut dan danau) menguap karena panas matahari. Kemudian mengudara dan
diatas udara kermudian berubah menjadi awan yang penhuh dengan titik-titik air. Karena perubahan suhu maka air itu turun menjadi hujan dan airnya jatuh ke bumi, sebagian meresap kealam bumi sebagian lainnya mengalir ke sungai, danau dan laut.

Tentang sucinya air yang diturunkan dari langit Allah berfirman dalam surah Al Anfal ayat 11

وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُمْ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً لِيُطَهِّرَكُمْ بِهِ الانفال 11
“Diturunkannya bagimu air dari langit supaya kamu bersuci dengannya”

Tentang sucinya air laut, Rasulullah bersabda:

عَنْ اَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهً عَنْهُ قَالَ:  سَاَلَ رَجُلٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهَ عَلَيْهِ وِسَلَّمَ، يَارَسُوْلُ اللهِ اِنّاَ نَرْكِبُ البَحْرَ وَنَحْمِلُ مَعَنَا القَلِيْلُ مِنَ المَاءِ، فَاِنْ تَوَضَّئْنَا بِهِ عَطِشْنَا، اَفَنَتَوَضَّئْنَا بِمَاءِ البَحْرِ؟ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّ اللهَ عَلَيْهِ وِسَلَّمَ هُوَالطَّهُوْرُ مَاؤُهُ الحِلُّ مَيْتَتُهُ.رواه خمسة وقال الترمذي حدث صحيح
 “Dari Abi Hurairah RA berkata telah datang seorang laki-laki  dan berkata kepada Rasulullah SAW :” Ya Rasulullah, kami berlayar di laut dan kami hanya membawa air sedikit. Jika air tersebut kami gunakan untuk berwuldu. Maka kami akan kehausan. Bolehkah kami berwudlu’ dengan air laut ?”  Maka menjawab Rasulullah SAW : “ air laut itu suci dan mensucikan, bangkai (yang yang hidup di laut) halal dimakan.

b.      Air Musyammasy, yaitu air yang terkena matahari sehingga menjadi panas. Air ini suci dan mencusikan dan dapat digunakan untuk
bersuci. Namun makruh hukumnya bila digunakan berdasarkan hadits yang disampaikan Aisyah

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهً عَنْهَا اَنَّهَا سَخَّنَتْ مَاءً فِيْ الشَّمْسِ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهَ عَلَيْهِ وِسَلَّمَ لَهَا لاَتفْعَلِيْ يَاحُمَيْرَاءُ   فَاِنَّهُ يُوْرِثُ البَرَصَ  رواه البيهقي
“Dari Aisyah RA (isteri Rasulullah) Sesungguhnya ia (aisyah) telah memanaskan air dengan matahari. Maka berkatalah Rasulullah SAW : ”Janganlah kau lakukan itu ya Humaira’ (wanita yang kemerah-merahan karena cantiknya) Sesungguhnya air  itu dapat menyebaban penyakit sopak (belang)

c.       Air Musta’mal, yaitu air sudah pernah digunakan untuk bersuci. Air ini tidak dapat digunakan untuk bersuci. (air bekas berwuldu’ atau mandi hadats. Meskipun tampak masih bersih.

d.      Air Mutannjis, yaitu air yang yang terkena najis. Bila air itu sedikit (qolil) dan bercampur najis akan menjadi tidak suci baik  menjadi berubah rasa dan baunya atau tidak. Sedangkan air yang banyak (katsir) bila bercampur najis menjadi tidak suci bila berubah rasa dan baunya.
Yang dimaksudkan dengan air yang sedikit (qolil) adalah air yang kurang dari dua kulah (kurang dari 200 liter), sedanghkan air banyak (katsir) adalah air yang lebih dari dua kulah.

عَنْ عَبْدِاللهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهَ عَلَيْهِ وِسَلَّمَ اِذَا كَانَ المَاءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ  يَحْمِلِ الخَبَثَ، وَفِيْ لَفْظٍ - لَمْ يَنْجُسْ- اَخْرَجَهُ الارْبَعَةُ وَصَحَّحَهُ خُزَيْمَةَ وَالحَاكِمُ وابْنُ حِبَّانُ رواه الخمسة
Dari Abdillah bin Umar berkata , Rasulullah SAW bersabda :”Apabila air cukup dua kullah tidak mengandung kotoran, dalam lafaz artinya tidak najis” dirikeluarkan oleh empat perwi dan dishahihkan oleh Khuzaimahm Hakin dan Ibnu Hibban.

عَنْ اَبِيْ اُمَامَةَ البَاهِلِيِّ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهَ عَلَيْهِ وِسَلَّمَ اِنَّ المَاءَ لاَ يُنَجِّسُهُ شَيْئٌ اِلاَّ مَا غَلَبَ عًلَى طَعَمِهِ اَوِ لَوْنِهِ اَوِرِيْحِهِ رواه ابن ماجه
Dari Abi Umamah al Bahili berkata, Rasulullah SAW bersabda : “Air itu  tidak dinajisi oleh sesuatu kecuali apabila telah berubah  rasanya, warnanya  atau baunya”

Selain itu ada air yang besih tetapi tidak dapat digunakan untuk bersuci, misalnya
a.      Air yang telah bercampur dengan suatu benda yang bersih tetapi telah berubah salah satu sifatnya (warna, bau atau rasanya) seperti minuman olahan sendiri (air kopi, air teh dan lainnya)  atau minuman olahan pabrik.

b.      Air yang sedikit (kurang dari dua kulah) yang sudah pernah digunakan untuk bersuci (hadats kecil atau besar) atau membersihkan najis (musta’mal), meskipun tidak berubah sifatnya (warna, rasa dan baunya) atau tidak berkurang jumlahnya (volumenya)

c.       Air buah-buahan atau air yang di hasilkan dari cairan pohon (air nira/tuak aren dan sebagainya)

d.      Air yang suci tetapi telah berubah sifatnya karena pengaruh atau bercampur suatu benda (air yang mengalir dan bersentuhan dengan belerang atau mengandung zat lain yang berbahaya untuk kesehatan, air hujan yang mengalir di sungai yang penuh najis, air tergenang telalu lama yang berubah bau, rasa atau warnanya,    atau air yang berubah sifatnya yang di sebabkan adanya makhluk hidup di dalamnya.

1.3.         Macam –macam bersuci

Pada dasarnya bersuci itu dibagi menjadi dua macam, yaitu  bersuci dari najis dan bersuci dari hadats

1.3.1.      Bersuci dari najis
Bersuci dari najis adalah menghilangkan najis yang ada pada tubuh, pakaian tempat atau benda-benda lain yang biasa dipergunakan sehari-hari dengan cara yang benar menuruh hukum. Di dalam limu fikih najis itu dibagi menjadi tiga macam:

a.      Najis Mughollazah(berat/tebal) seperti najisnya anjing. Cara mensucikannya adalah dengan membasuh tujuh kali dengan salah satunya dibasuh dengan tanah.

عَنْ اَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهً عَنْهُ قَالَ:  قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهَ عَلَيْهِ وِسَلَّمَ طَهُوْرُ اِنَاءِ اَحَدِكُمْ اِذَا وَلَغَ فِيْهِ الكَلْبُ اَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ اَوْلاَهُنَّ بِالتُّرَابِ رواه مسلم
Dari abi Hurairah RA. Berkata, Rasulullah SAW bersaba : “Cara mencuci bejada salah seorang dari kamu apavila dijilat anjing hendaklah dibasuh tujuh kali yang salah salah satunya hendaklah dicampur dengan tanah”
b.      Najis Mutawassithoh, yaitu najis yang tida termasuk dalam najis mughollahzaoh dan Mukhaffafah. Najis ini dibagi menjadi dua macam, yaitu
Najis Hukmiyah yaitu najis yang diyakini adanya najis itu  tetpi tidak tampak zat, bau, warna atau rasanya, najis kencing yang telah kering atau najis lain yang sudah tidak kelihatan lagi. Cara membersihkannya cukup dengan menyiramkan atau mengalirkan air diata tempat yang kita yakini adanya najis tersebut.

Najis Ainiyah, Yaitu najis yang tampak zat, warna atau baunya. Cara membersihkannya dengan menghilangkan zat, bau, warna dan baunya. Kecuali warna atau bau yang sulit sekali dihilangkan, maka dapat dimaafkan.

Bebrpa contoh najis mutawassithoh adalah:
1.      Bangkai bidatang darat yang mengalir darahnya. Termasuk didalamnya bagian tibuh hewan yang dipotong/diambil selagi hewannya hidup.
عَنْ اَبِيْ وَاقِدٍ اللَّبْثِيِّ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ اللهِ صَلىَّ اللهَ عَلَيْهِ وِسَلَّمَ مَا قُطِعَ مِنَ البَهِيْمَةِ وَهِيَ حَيَّةٌ فَهًوِ مَيْتَةٌ  رواه ابو داود والترمذي
Artinya : semia yang dipotong dari binatang dan binatang itu masih hidup adalah bangkai

2.      Semua darah najis dan harap dimakan kecuali hati dan limpa hewan
حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ المَيْتَةُ وَالدَّمُ ...... المائدة 3
Artinya :diharamkan bagimu (memakan) bangkai dan darah

3.      Nanah baik yang kental maupun yang encer. Nanah padadasarnya adalah darah yang membueuk
4.      Muntah ( bila hanya sediki8t dapat dimaafkan)
5.      Semua yang keluar dari dubur atau kubul manuasiaatau hewan kecuali air mani. Sedangkan mazi najis.
6.      Arak (minuman yang memabukkan)

c.       Najis Muhkaffafah, Yaitu najis yang ringan seperti najis dari kecing bayi laki-laki yang belum makan dan minum selain air susu ibunya. Cara membebersihkannya cukup dengan mempercikkan air ditempat yang yakini ada najis tersebut.
Bagaimana dengan najis kencing bayi perempuan yang belum makan dan minum selain air susu ibunya. Cara membebersihkannya sama dengan membersihkan najis Mutawassithoh.

اِنَّ اُمُّ قَيْسٍ جَاءَتْ بِاِبْنٍ لَهَا صَغِيْرٍ لَمْ يَاْكُلِ الطَّعَامَ فَاَجْلَسَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهَ عَلَيْهِ وِسَلَّمَ فِيْ حُجْرَمِ فَبَالَ عَلَيْهِ فَدَعَا بِمَاءٍ فَنَضَحَهُ وَلَمْ يَغْسِلْهُ  
Sesungguhnya Ummu Qais telah dating kerpada Rasulullah SAW bersama anak lali-lakinya yang belum makan makanan (selain air susu ibunya) Maka Rasulullah mendudukan anak itu dipangkuannya lalu anak itu kencing di panggkuan Rasulullah. Maka Rasulullah mempercikkan airkencing itu dengan air dan tidak mencuci/ membasuh kencing itu.

1.3.2.      Benda-benda yang hukumnya najis
a.      Bangkai makhluk darat selaian bangkai manusia, segala macam darah dan nanah kecuali hati dan limpa. Bangkai makhluk darat itu najis dan haram untuk dimakan. Sedangkai bangkai ikan dan belalang dihalalkan. Darah dan nanah itu najis dan haram untuk dimakan kecuali hati dan limpa . Rasulullah bersabda:

عَنْ اِبْنِ عُمَرَ قَال: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهَ عَلَيْهِ وِسَلَّمَ اُحِلَّتْ لَنَامَيْتَتانِ وَدَمَانِ فَاَمَّاالمَيْتَتَانِ فَاالجَرَدُ وَالحُوْتُ وَاَمّا الدَّمَانِ فَالطِّحَالُ وَالكَبِدُ رواه احمد وابن ماجه 
Dari Ibnu Umar berkata, telah bersabda Rasulullah SAW :”Telah dihalalkan dua macam bangkai dan dua macam darah. Adapun dua bangkai yaitu bangkai ikan dan belalalng dan dua darah yaitu  hati dan limpa”

b.      Semua benda (kotoran) yang keluar dari dubur atau qubul kecuali air mani (seperma)
c.       Semua minuman keras yang memabukkan
d.      Anjing dan Babi
e.      Bagian tubuh hewan yang diambil selagi hewan tersebut masih hidup.


1.4.         Adab buang hajat (ke WC)
a.      Hendaknya memakai alas kaki seprti yang dilakukan Rasulullah pada setiap masuk kamar kecil
b.      Mendahulukan kaki kiri pada waktu masukdan mendahulukan kaki kanan ketika keluar kamar kecil
c.       Hekdaknya tidak memakai atau membawa benda yang bertuliskan Lafaz Allah atau Rasulullah dan tidak membaca ayat Al Qur’an.
d.      Hendaknya tidak berbicara, kecuali dalam keadaan angat penting, tidak berzikit,menjawab salam dan menjawab azan
e.      Tidak boleh buang hajat di air tergenang kecuali di genangan air yang luas.
f.        Hendaknya tempat buang hajat itu jauh dari tempat orang, sehingga baunya tidak mengganggu
g.      Tidak boleh buang hajat kedalam lubang, karena dikhawatirkan ada binatang di dalamnya.
h.      Tidak boleh buag hajat di tempat pemberhentian/istirahat dalam perjalanan, kecuali disediakan tempat khusus yang terpelihara.
i.        Tidak buang air di bawah pohon yang sedang berbuah
j.        Tdaik buaang air kecil sambil berdiri
k.       Bila buang air di tempat terbuaka hendaknya tidak menghadap atau membelakangi kiblat
l.        Tidak membersihkan kotoran dengan tangan kanan
m.    Hendaknya membca do’a sebelum masuk

بِسْمِ اللهِ اَللهُمَّ اِنِّيْ اَعُوْذُ بِكَ مِنَ الخُبُثِ وَالخَبِائِثِ
Artinya : Dengan menyebut nama Allah, ya allah aku berlindung kepada-Mu dari godaan setan laki-laki dan perempuan.

      dan doa sesudah keluar kamar kecil (WC)

اَلحَمْدُ للهِ الّذِيْ اَذْهَبَ عَنِّيْ الاَذَى وَعَافَانِيْ

Artinya :  Segala puji bagi Allah yag telah menghilangkan kotoran yang menyakitkanku dan telah member kesehatan kepadaku

n.      Setelah selesai buang air hendaklah berdo’a setelah istinja’

اَللهُمَّ طَهِّـرْ قَلْبِيْ مِنَ النِّفَاقِ وَحَصِّنْ فَرْجِيْ مِنَ الفَوَاحِشِ

Artinya : Ya Allah sucikanlah hatiku darisifat munafik dan jagalah kemaluanku dari perbuatan keji


1.5.         Istinja’

 Istinja adalah bersuci setelah buang hajat kecil atau besar. Biasanya beristinja dilakukan dengan air. Istinja yang baik adalah pertama dilakukandengan batu  kemudian dilanjutkan dengan air. Orang yang tidak beristinja setelah buang hajat besar atau kecil ia dikatakan tidak bersih dan kelak akan mendapat azab kubur.

اِنَّهُ صَلىَّ اللهَ عَلَيْهِ وِسَلَّمَ مَرَّ بِقَرَيْنِ فَقَالَ اِنَّهُمَا يُعَذَّبَانِ اَمَّا اَحَدُ هُمَا فَكَانَ يَمْشِيْ بِالنَّمِيْمَةِ وَاَمَّا الاَخَرُ فَكَانَ لاَيَسْتَنْزِهُ مِنْ بَوْلِهِ متفق عليه

Sesungguhnya Rasulullah SAW berjalan memalui dua buah kubur/makam. Ketika itu Rasulullah berkata :” Kedua orang penghuni kubur itu mendapat siksa. Seorang disiksa karena  berjalankesana kemari untuk mengadu domba orang lain dan satu lainnya  disiksa karena tidak beristinja setelah buang hajat kecil”.
Beristinja dengan batu dapat dilakukan dan sah hukumnya bila dilakukan dengan tiga batu atau satu batu yang memiliki segi/sisi tiga.

اِذَاسْتَجْمِرَ اَحَدُكُمْ فَااليَسْتَجْمِرْ وِتْرًا رواه البخاري ومسلم

Apabila salah seorang dari kami beristinja’ dengan batu  maka hendaklah ganjil.

Apabila tidak ada batu dapat pula dilakukan dengan benada lain yang bersih, kesat. Tidak sah beristinja dengan batu yang tidak bersih, dengan batu atau benda yang licin dan tidak sah beristinja dengan benda yang dianggap mulia/dihormati, seperti makanan atau lainnya yang bersifat mubazzir  atau dengasn benda/batu yang tajam.

قَالَ سُلَيْمَانُ نَهَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهَ عَلَيْهِ وِسَلَّمَ اَنْ نَسْتَنْجِيَ بِاَقَلَّ مِنْ ثَلاَثِ اَحْجَارٍ  رواه مسلم

Berkata sulaiman (seoranh sahabat) sesunggunmya kami dilarang beritinja dengan batu kurang dari tiga batu

Beristinja dengan batu dapat dilakukan apabila kotorannya tidak mengenai bagian tubuh lain disekitas tempat keluarnya. Karena beristinja dengan batu hanya untuk membersihkan tempat keluarnya kotoran dari tubuh. Sedangkan bagian tubuh lain yang terkena kotoran harus dibersihkan dengan air.


1.6.         Berwudlu’
1.6.1.Syarat sahnya wudlu’
a.      Beragama Islam.
b.      Mumayyiz (sudah dapat membedakan benar atau salah)
c.       Tidak berhadts besar
d.      Dilakukan dengan air yang suci dan mensucikan
e.      Tidak ada yang menghalangi air sampai ke bagian tubuh yang harus dibasuh dalam berwudlu’

1.6.2.Fardlu/rukun wudlu’
a.      Niat
Niat berwudlu’ dilakukan ketika akan memulai melaksanakan wudlu’. Tanpa niat wudlu yang dilaksanakan tidak sah. Karena sesungguhnya segala amal perbuatan itu harus derngan niat

b.      Membasuh muka
Yang dimaksud dengan muka adalah bagian wajah dari bagiat atas (tempat tumbuh rambut) sampai dengan leher dan mulai dari anak telinga kiri sampai dengan anak telinga kanan. Semua yang ada/tumbuh dibagian wajah harus dibasuh dengan merata, misalnya kumis dan jenggot.

c.       Membasuh dua tangan sampai ke sikut
Yang dimaksud dengan tangan disini adalah bagian lengan mulai dari ujung jari tangan sampai atas sikut.

d.      Menyapu bagian kepala
Bagian kepala yang disapu adalah bagian yang tumbuh rambut, bagian belakang, depan atau samping. Tidak harus seluruh kepala dibasuh, namun boleh dibasuh seluruhnya.
e.      Membasuh dua kaki sampai kemata kaki
Kaki yang dibasuh adalah mulai ujung jari kaki sampai dengan mata kaki

f.        Tertib
Yang dimaksud dengan tertib adalah dilakukan sesuai dengan urutannya, mulai dari niat sampai dengan membasuh kaki tanpa terputus/terhenti hingga kering air pada bagian anggota wudlu yang telah dibasuh.

1.6.3.Sunnah-sunnah wudlu’
a.      Membaca basmalah sebelum melakukan wudlu’
b.      Membersihkan tangan sampai pergelangan sebelum berkumur
c.       Berkumur
d.      Memasukkan sedikit air ke hidung (dan mengeluarkannya kembali)
e.      Menyapu seluruh kepala (pada waktu membasuh kepala)
f.        Membasuh kedua telinga bagian luar dan dalam
g.      Menyilsang-ngilangkan jari ketika membasuh dua tangan dan dua kaki aga benar-benar merata terkena air.
h.      Mendahulukan membasuh anggota badan yang kanan
i.        Membasuh tiap anggota tubuhyang dibasuh dalam wudlu dengan berulang tiga kali.
j.        Membasuh anggota wudlu’ berturut-turut tanpa henti
k.       Tidak meminta pertolongan orang lain dalam berwudlu’ kecuali terpaksa.
l.        Tidak dikeringkan (digosok sampai kering)
m.    Menggosok-gosok dengan teliti anggota wudlu’ sehingga yakin benar terkena air.
n.      Menjaga percikan air tidak terka kembali ketubuh
o.      Bersiwak (menggosok gigi)
p.      Membaca dua kalimah syahadah dan menghadap kiblat ketika berwudlu’
q.      Membaca do’a setelah berwudlu’
أَشْهَدُاَنْ لاَاِلَهِ اِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُانَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللهُمَّ اجْعَلْنِىْ مِنَ التَّوَّابِيْنَ واجْعَلْنِيْ مِنَ المُتَطَهِّرِيْنَ  رواه احمد و مسلم و ترمذي
Aku bersaksi, bahwa tidak ada tuha selain Allahyanh esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hamba dan Rasul-Nya. Ya Allah jadikanlah aku orang yang (suka )bertobat dan jadikalna kau orang yang suci.

1.6.4.Yang membatalkan wudlu’
a.      Keluar sesuatu dari kubu atau dubur (berupa cair, padat atau gas)
اَوْ جَاءَ اَحَدٌ مِنَ الغَائِطِ     النســاء 42
Atau orang yang datang (keluar) dari tempat buang hajat
Artinya orang yang buang hajat itu telah batal wudlu’nya.

b.      Hilang akal/ingatan karena gila, epilepsi/ayan, pingsan atau tertidur

عَنْ مُعَاوِيَةَ قَال قَالَ رِسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهَ عَلَيْهِ وِسَلَّمَ اَلعَيْنُ وِكَاءُ السَّهِّ، فَاِذَا نَامَتِ العَيْنَانِ اِسْطَلَقَ الوِكَاءُ  رواه احمدوطبران  (وَفِي الحَدِيْثِ عِنْدَ  اَبِيْ دَاوُد عن عليّ)  فَمَنْ نَامَ فَاليَتَوَضَّاءْ رواه ابوا داود
Kedua mata itu tali yang mengikat dubur, apabila dua mata tertidur maka terbukalah pintu dubur. (Pada Hadits riwayat Abu Daud dari Ali) Maka siapa saja yang tertidur maka hendaklah ia berwudlu’

Apabila tertidur dalam keadaan duduk bersila dan tetap sehingga pintu dudurnya tertutup, maka orang itu tidak harus berwudlu’ (wudlu’nya tidak batal)

c.       Bersentuhan kulit antara lelaki degnan perempuan yang bukan muhrim
اَوْ لَمَسْتُمُ النِّسَاءَ   النسـاء  42
Atau bersentuhan dengan perempuan

d.      Menyentuh kubul atau dubur dengan telapak tangan sengaja atu tidak sengaja

عَنْ اُمِّ حَبِيْبَةَ قَالَتْ سَمِعْتُ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهَ عَلَيْهِ وِسَلَّمَ يَقُوْلُ مَنْ مَسَّ فَرْجَهُ فَاليَتَوَضَّاءْ  رواه بن ماجه وصححه احمد
Dari Ummu Habibah berkata saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, siapa saja yang menyentuh kemaluannya maka hendaklah ia berwudlu’
عَنْ بُسْرَةَ بِنْتِ صَفْوَانِ اَنَّ النَّبَِّى صَلىَّ اللهَ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مِنْ مَسَّ ذَكَرَهُ فَلاَ يُصَلِّيْ حَتَّى يَتَوَضَّأَ  رواه الخمسة
Dari Busroh binti Sofwan Sesungguhnya Nabi Muhammad SAW pernah bersabda :” Siapa(laki-laki) yang menyentuh zakarnya (kemaluannya) maka janganlah mengerjakan sholat sampai ia berwudlu’”

1.7.         Hadats
       Hadats adalah suatu keadaan seseorang yang menghalangi saahnya ia  melakukan suatu
ibadah. Hadats dibagi menjadi dua macam, yaitu hadats kecil dan hadats besar. Hadats kecil adalah keadaan seseorang yang tidak suci dan dapat disucikan dengan berwudlu’ atau tayammmum. Sedanghkan hadats besar adalah keadaan seseorang yang tidak suci dan mensucikannya dengan mandi hatas atau tayammum.

1.7.1.Bersuci dari hadats kecil
       Bersuci dari hadats kecil dapat dilakukan dengan berwudlu’ atau  bertayammum, bila
       tidak ada air atau berhalangan (ada bagaian anggotsa wudlu’ tidak boleh terkena air)

1.7.2. Mandi Hadats (Bersuci dari Hadats)
1.7.2.1  Yang menyebabkan wajib mandi hadats

a.      Bersetubuh baik keluar mani atau tidak

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهَ عَلَيْهِ وِسَلَّمَ  اِذِا التَقَى الخِتَانَانِ فَقَدْ وَجَبَ الغُسْلَ وَاِنْ لَمْ يُنْزِلْ رَوَاه مسلم

Apabila bertemu dua hitanan (kemaluan laki dan perempuan)maka sesungguhnya sudah wajib mandi hadats, meskipun tidak keluar mani

b.      Keluar mani, baik keluar dengan sengaja atau bermimpi  atau denga n cara lain sengaja atau tidak.

عَنْ اُمِّ سَلَمَةَ اَنَّ اُمُّ سُلَيْمِ قَالَتْ يَا رَسُلُ اللهِ اَنَّ اللهَ لاَيِسْتَحْيِيْ مِنَ الحَقِّ فَهَلْ عَلَى المَرْأَةِ الغُسْلُ اِذَ احْتَلَمَتْ؟ قَالَ نَعَمْ، اِذَا رَأَتِ المَاءَ  متفق عليه

Artinya: Dari Ummu Salamah, sesungguhnya Ummu Sulaim bertanya kepada Rasulullah SAW, “ Ya Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu mengatakanyang hak, Apakah wajib mandi  bagi perempuan bila bermimpi?” Jaweab Rasulullah :” Ya Apabila ia melihat air (mani)”  


c.       Mati (meninggal dunia)

Orang muslim yang meninggaldunia Fardlu kfayah memnadikannya, kecual;I orang yang mati syahid.

d.      Haidl

     Setelah seorang wanita selesai haidl ia harus mandi hadats

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهَ عَلَيْهِ وِسَلَّمَ   لِفَاطِمَةَ بِنْتِ اَبِيْ حُبَيْشٍ اِذِا اَقْبَلَتِ الحَيْضَةُ فَدَعِيْ الصَّلاَةَ وَاِذَا اَدْبَرَتْ فَاغْتَسِلِيْ وَصَلِّي  رواه البخارى

Artinya: Rasululllah SAW berkata kepada Fatimah binti Hubaisy :” Apabila datang haidl hendaklah engkau tinggalkan shalat, dan apabila selesai haidl itu hendaklah engkau mandi dan sholat”

e.      Melahirkan, Baik melahirkan dengan anak yang normal atau keguguran

f.        Nifas
 
Keluar darah darimkemaluan perempuan setelah melahirkan. Setekah selesai nifar, wanita yang melahirkan harus mandi hadats.

1.7.2.2  Fardu/Rukun Mandi Hadats
a.      Niat (didalam hati) ketika memulai mandai hadats.
b.      Menyampaikan/meratakan air kesluruh tubuh

1.7.2.3. Sunnah-sunnah dalam mandi hadats
a.      Membaca basmalah pada permulaan mandi
b.      Berwudlu’ sebelum mandi
c.       Menggosok-gosok seluruh badan
d.      Mendahuluan bagian tubuh kanan
e.      Berturut-turut

1.8.         Mandi Sunnah
1.8.1.      Mandai sunnah hari Jum’at bagi orang yang akan melaksanakan sholat jum’at
1.8.2.      Mandi hari raya sebelum melaksanakan shalat Id
1.8.3.      Mandi setelah sembuh dari penyakit gila
1.8.4.      Mandi ketika akan berihram (haji atau Umroh)
1.8.5.      Mandi setelah memandikan jenazah
1.8.6.      Mandi orang kafir setelah masuk Islam

1.9.         Tayammum

1.9.1.      Sebab-sebab dibolehkannya bertayammum

a.      Uzur karena skit, apabila terkena air maka penyakitnya tidak sembuh.
b.      Karena dalam perjalanan
c.       Karena tidak ada air

وَاِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى اَوْ عَلَى سَفَرٍ اَوْجَاءَ اَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الغَائِطِ اَوْلَمَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُ صَعِيْدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوْهِكُمْ وَاَيْدِيْكُمْ مِنْهُ   المائدة  6

Artinya: Dan apabila kau sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air atau bersentuhan dengan perempuan lalu kamu tidak mendapatkan air maka hendaklah kamu bertayammum dengan tsanah suci basuhlah wajah dan kedua tanganmu dengan tanah tersebut …..
1.9.2.      Syarat-syarat Tayammum
a.      Sudah masuk waktu shalat, karena sudah masuk waktu dan wajib melaksanakan  shalat akan tetapi  tidak mendapatkan air untuk berwudlu.
b.      Sudah berusaha mendapatkan air  untuk berwudlu’ tetapi tidak didapatkan
c.       Dengan tanah/debu yang suci
d.      Menghilangkan najis

1.9.3.      Fardlu/rukun tayammum
a.      Niat
b.      Membasuh wajah dengan debu
c.       Membasuh kedua tangan dengan debu
d.      Tertib (urutannya)

1.9.4.      Sunnah-sunnah Tayammum
a.      Membaca basmalah
b.      Menepis debu yangada di telapak tangan agar dengan tertinggal lebih sedikit
c.       Membaca syahadatain setelah melaksanakan tayammum

1.9.5.      Yang membatalkan tayammum
a.      Semua yang membatalkan wudlu’ juga membatalkan tayammum
b.      Telah mendapatkan air.

1.9.6.      Beberapa hal yang berkaitan dengan tayammum
a.      Orang yang melaksanakan shalat dengan bertyammum tidak wajib mengulang shalatnya bila mendapatkan air.
b.      Orang yang bersuci dari hadats besar dengan bertayammum wajib mandi bila tyelah mendapatkan air.
c.       Satu kli tayammum dapat digunakan untuk beberapa shalat wajib atau sunnah
d.      Boleh bertayammmum karena luka (dibalut)
e.      Boleh bertyammum karena suhu sanbgat dingin dan bagi orang tertentu sangat dingin itu dapat menyebabkan sakit.

1.10.    Perbuatan/pekerjaan yang dilarang apabila berhadats
a.      Melaksanakan shalat
لاَيَقْبَلُ اللهُ صَّلاَةَ اِذَا اَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ  رواه البخاري ومسلم
Artinya : Allah tidak menerima shalat  salah seorang dari kamu bila ia berhadats sampai ia berwudlu’

b.      Tawaf
الطَّوَافُ صَلاَةٌ اِلاَّ اِنَّ اللهَ اَحَلَّ فِيْهِ الكَلاَمَ فَمَنْ تَكَلَّمَ فَلاَ يَتَكَلَّمْ اِلاَّ بِخَيْرٍ  رواه الحاكم

Artinya : Thawaf itu shalat, hanya saja Allah menghalalkan berbicara apabila berbicara maka berbicaralah dengan baik

c.       Membawa, menyentuh Mushaf (Al Qur’an) sedangkan menurut pendapat ulama lain boleh menyentuh atau membawa Al Qur’an

1.11.    Perbuatan yang dilarang apabila berhadats besar
a.      Melaksanaan shalat
b.      Bertawaf
c.       Menyentuh/membawa Al Qur’an (menurut pendapat lain boleh)
d.      Membaca Al Qur’an (menurut pendapat lain boleh)
e.      Masuk/diam di dalam masjid/musholla
f.        Berpuasa
g.      Haram bagi suami mentalak isteri yang sedang haidl atau nifas
h.      Haram bersetubuh ketika isteri sedang haidl atau nifas

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar